Analisis Shirah Nabawiyah
Sebuah Tawakkal untuk Menghadirkan Kembali Spirit yang Hilang
“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan AlQuran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu dan demikian itulah kemenangan yang agung”
( Qur’an surat At Taubat 111)
Masih ingatkah kita dengan kisah perang Uhud?
Salah satu dari sekian banyak kisah perang yang menggambarkan kesungguhan (jiddiyah) dan komitmen (iltizam) yang kuat dari kaum muslimin dalam menegakkan kalimat Allah di muka bumi. Tentu banyak pelajaran yang bisa dipetik, apalagi bila dikaitkan dengan gerak dakwah kaum muslimin saat ini. Sejarah adalah kepingan peristiwa yang akan terulang. Perulangannya akan menjadi sebuah pengalaman. Maka pengalaman adalah guru terbaik.
Perang Uhud terjadi kira-kira satu tahun setelah kemenangan umat muslim pada perang Badr. Tak dapat dipungkiri jika kaum kafir Quraisy berperang dengan membawa dendam dan kekesalan yang amat mendalam. Namun hal ini justru semakin menambah semangat dan totalitas kaum muslimin untuk jihad fi sabilillah di medan perang. Dikisahkan bahwa pada saat inspeksi pasukan, banyak prajurit yang usianya terlalu muda dan dianggap belum mampu terjun ke kancah perang dilarang untuk ikut berperang kecuali Rafi’ bin Khadij dan Samurah bin Jundab yang saat itu baru berumur 15 tahun. Sebenarnya, pada mulanya Rafi’ bin Khadij saja yang diperbolehkan ikut karena dia mahir melepaskan anak panah. Namun mengetahui hal itu, Samurah bin Jundab protes dan berkata, “Aku lebih kuat dari Rafi’, karena aku pernah mengalahkannya.” Ketika hal ini disampaikan kepada Rasulullah saw , maka beliau memerintahkan agar keduanya bertanding di hadapan beliau dan ternyata Samurah dapat mengalahkan Rafi’. Maka Samurah pun diperbolehkan ikut. Subhanallah, bahkan anak-anak yang belum punya kewajiban berperang pun berlomba-lomba untuk syahid. Bagaimana dengan kita yang usianya jauh lebih tua dari Rafi’ dan Samurah? Apa yang sudah kita lakukan untuk membela agama Allah?
Telah kita ketahui bersama bahwa dalam perang Uhud kaum muslimin sempat mengalami kekalahan karena pasukan pemanah di bukit Uhud yang tidak mengindahkan perintah Nabi saw dan malah memilih untuk mengumpulkan harta rampasan dari pihak musuh. Hingga akhirnya di bukit Uhud hanya menyisakan Ibnu Jubair dan sembilan rekannya. Keadaan ini tidak disia-siakan oleh kaum kafir Quraisy. Alhasil, Ibnu Jubair dan Sembilan rekannya syahid. Kaum kafir Quraisy yang berhasil menjebol pertahanan kaum muslimin seolah melihat titik terang dalam peperangan ini. Keadaan berbalik 180 derajat. Kini, giliran pasukan muslimin yang terombang-ambing. Kekacauan semakin memuncak ketika tersiar kabar bahwa Rasulullah saw wafat. Mental pasukan kaum muslimin turun drastis. Satu pelajaran penting bahwa menaati perintah Allah dan RasulNya adalah jauh lebih ‘menguntungkan’ dibandingkan dengan bumi dan seluruh isinya seperti yang tertuang dalam surat At Taubat ayat 111. Seorang Ulama besar pernah mengatakan bahwa sesungguhnya kita telah dikhitbah (dipinang) oleh dakwah. Maka seluruh hidup kita hanyalah untuk dakwah. Jangan pernah ragu akan janjiNya. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita agar mampu merelakan hidup kita untuk islam, untuk dakwah, untuk umat. Yakinlah bahwa “jika aku menolong agama Allah, pasti Allah akan menolongku dalam segala urusan”. (QS. 47:7, “In tanshurullah yanshurkum wayutsabbit bihil aqdaam” (Jika engkau menolong Allah, Allah akan menolongmu dan meneguhkan pendirianmu))
Sikap kerelaan berkorban ini juga ditunjukkan oleh Rasulullah saw. Ketika pertahanan kaum muslimin porak poranda, Rasulullah saw yang saat itu menjadi the most wanted person di kalangan kaum kafir Quraisy dengan lantang berteriak “Kemarilah, aku adalah Rasul Allah.” Tujuan sebenarnya adalah untuk mengumpulkan kembali pasukan yang sudah cerai berai untuk kembali ke tempat beliau dan nantinya akan dijadikan tameng untuk menyibak pasukan musuh hingga mencapai bukit Uhud. Namun konsekuensinya jelas, Nabi saw harus mempertaruhkan nyawanya di tangan kaum kafir Quraisy. Rasulullah saw saat itu hanya ditemani oleh tujuh orang Anshar dan dua orang Muhajirin. Setelah bertempur dengan sengit, tujuh orang Anshar pun syahid. Tinggallah Rasulullah saw bersama dua orang Muhajirin yang sudah sangat kita kenal yakni Sa’d bin Abu Waqqash dan Thalhah bin Ubaidillah. Inilah saat paling kritis dalam kehidupan Rasulullah saw. Dari pertempuran yang tidak seimbang ini Rasulullah saw banyak mendapat luka. Dalam Ash Shahih disebutkan bahwa gigi seri yang dekat dengan gigi taring beliau pecah dan kepala beliau terluka. Dan beliau bersabda, “Ya Rabbi, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” Subhanallah, inilah mulianya akhlaq Rasulullah saw. Meski sudah dilukai berkali-kali tapi tetap tidak berputus asa terhadap rahmat Allah. Sama halnya dengan kita. Dakwah memang bukanlah jalan yang penuh bunga, ia adalah jalan yang penuh duri namun ujungnya adalah surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Jangan sampai kita keluar dari jalan dakwah dan memilih jalan lain yang dipenuhi bunga namun ujungnya adalah neraka. Naudzubillahimindzalik.
Jika dalam peperangan itu Nabi saw yang dilindungi saja terluka, bagaimana nasib Sa’d dan Thalhah yang melindungi Nabi saw? Di dalam riwayat Al Hakim, disebutkan bahwa Thalhah mendapat 39 atau 35 luka pada perang Uhud dan jari-jari tangannya putus. Rasulullah saw pun bersabda tentang diri Thalhah, “Barang siapa ingin melihat orang mati syahid yang berjalan di muka bumi, maka hendaklah dia melihat Thalhah bin Ubaidillah.” (At Tirmidzi). Subhanallah, Thalhah bahkan tidak ingin kehilangan nafas perjuangan menegakkan agama Allah bahkan di saat detik-detik syahidnya. Allahu Akbar! Inilah cermin militansi sejati. Dakwah hingga titik darah penghabisan bukan lagi sekedar retorika. Thalhah bin Ubaidillah telah membuktikannya pada kita. Thalhah bisa, kenapa kita tidak bisa? Kenapa kita masih duduk diam bersantai dan bermalas-malasan? Ulama besar pernah mengatakan, kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersedia.
Sejarah diciptakan oleh orang-orang yang membangun mimpinya bukan oleh orang-orang yang hanya bermimpi. Apa mimpi antum untuk teknik? Sudahkah mencoba membangun mimpi antum agar bisa menjadi kenyataan? Tak ada waktu lagi, kita mulai bersama dari sekarang. Untuk Teknik yang Islami. Allahu Akbar!
Hanif Kusuma W.


0 komentar:
Posting Komentar